Minggu, 31 Maret 2013

Pengertian Subkultur Kata ‘kultur’ dalam subkultur menunjuk pada keseluruhan cara hidup yang bisa dimengerti oleh para anggotanya. Kata ‘sub’ mempunyai arti konotasi yang khusus dan perbedaan dari kebudayaan dominan atau mainstream. Menurut Fitrah Hamdani dalam Zaelani Tammaka (2007:164) “Subkultur adalah gejala budaya dalam masyarakat industri maju yang umumnya terbentuk berdasarkan usia dan kelas. Secara simbolis diekspresikan dalam bentuk penciptaan gaya (style) dan bukan hanya merupakan penentangan terhadap hegemoni atau jalan keluar dari suatu ketegangan sosial”. Subkultur lebih jauh menjadi bagian dari ruang bagi penganutnya untuk membentuk identitas yang memberikan otonomi dalam suatu tatanan sosial masyarakat industri yang semakin kaku dan kabur. Secara sosiologis, sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan/atau gender, dan dapat pula terjadi karena perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya. Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian, sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan. Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream. Konsep Subkultur dalam Masyarakat Konsep subkultur adalah suatu konsep yang terus bergerak yang bersifat konstitutif bagi objek studinya. Ia adalah suatu terminologi klasifikaoris yang mencoba memetakan dunia sosial dalam suatu tindakan representasi. Subkultur tidak hadir sebagai suatu objek autentik, melainkan dikemukakan oleh para teoritisi subkultur. Kebudayaan adalah subkultur mengacu kepada seluruh cara hidup atau peta makna yang menjadikan dunia ini mudah dipahami oleh anggotanya. Kata “sub” mengandung konotasi suatu kondisi yang khas dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat dominan atau mainstream. Atribut yang mendefinisikan subkultur, pada gilirannya terletak pada bagaimana akses diletakkan pada perbedaan antara kelompok kultural atau sosial tertentu dengan kebudayaan ataumasyarakat yang lebih luas. Titik berat diletakkan pada variasi dari kolektifitas yang lebih luas yang diposisikan secara sama, namun tidak problematis, sebagai sesuatu yang norma, rata-rata dan dominan. Subkultur dengan kata alain dipandang rendah atau menikmati satu kesadaran tentang perbedaan. Menurut Thornton, opengertian penting dari awalan “sub” adalah lapis bawah atau bawah tanah. Subkultur dipandang sebagai ruang bagi budaya menyimpang untuk menasosiasikan ulang posisi mereka atau untuk meraih tempat bagi dirinya sendiri. Sehingga kebanyakan teori subkultur terkait dengan perlawanan semakin kentara. Kebanyakan kita menganggap dan mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Padahal, kalau kita tahu dan sadar akan arti dan tujuan kata tersebut, subkultur tidak selalu ditujukan untuk hal yang negatif. Menurut Mazhab Chicago mengeksplorasi penyimpangan remaja sebagai serangkaian perilaku kolektif yang dikelola di dalam dan melalui nilai kelas subkultur. Perilaku anak muda yang mengganggu kepentingan umum dipahami bukan sebagai patologi individual, atau sebagai akibat dari anak muda yang tak terbedakan, namun sebagai solusi praktis kolektif terhadap masalah kelas yang muncul secara struktural. Para teoretisi kultural studies setuju bahwa anak muda tidak seharusnya dipahami sebagai kelompok homoigen agar perbedaan kelas dan artikulasi mereka denghan nilai – nilai kultural mainstream dan nilai – nila kultural dominan dapat dipahami. Subkultur dilihat sebagai solusi ajaib atau simbolis atas persoalan struktural kelas. Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam model pembagian seperti ini, keadaan kesejahteraan sosial dan ekonomi dinilai sangat tidak adil. Kelompok yang merasa dirugikan, karena kondisi struktur cipataan sangat berperan menyebabkan kondisi ini, berusaha dengan keterbatasan yang ada tetap ingin dapat menikmati hidup dengan cara melakukan redefinisi budaya atau menjadi subkultur agar terasa lebih nyaman. Subkultur memunculkan suatu upaya untuk mengatasi masalah – masalah yang di alami secara kolektif yang muncul dari kontradiksi berbagai struktur sosial. Seubkultur membentuk suatu bentuk identitas kolektif dimana identitas individu bisa diperoleh diluar identitas yang melekat pada kelas, pendidikan dan pekerjaan. Menurut Brake ada lima fungsi yang bisa di mainkan subkultur bagi para anggotanya diantaranya yaitu : a. Menyediakan suatu solusi atas berbagai masalah sosio ekonomi dan struktural. b. Menawarkan suatu bentuk identitas kolektif yang berbeda dari sekolah dan kerja. c. Memperoleh suatu ruang bagi pengalaman dan gambarab alternatif realitas sosial. d. Menyediakan berebagai aktifitas hiburan bermakna yang bertentangan dengan sekolah dan kerja Contoh – contoh Subkultur • Geng Motor Willis berpendapat bahwa geromolan seperda motor, kebisisngan pengendara yang selalu melaju mengekspresikan kebudayaan nilai dan identitas geng motor. Soliditas , daya tangkap, kekuatan sepeda motor cocok dengan sifat nyata dan penuh percaya diri dari dunia anak – anak muda anggota geng motor. Sepeda motor menegaskan komitmen para anggotanya oleh terhadap hal – hal yang bersifat fisik , ketangguhan dan kekuatan sehingga kejutan dari akselerasi motor agresifitas dari orang – orang yang tak mengenal rasa takut cocok dan menyimbolkan kekuatan maskulin, eratnya persahabatan kekerasan bahasa, dan gaya interaksi sosial mereka. Menurut Willis subkultur melakukan berbagai kritik penting dan mengemukakan sejumlah pandangan tentang kapitalisme kontemporer dan kebudayaannya. Cara anak – anak pengendara sepeda motor itu dalam menjinakkan brutalnya teknologi demi mencapai tujuan manusia secara simbolis menunjukkan kepada kita teror teknologi raksasa kapitalisme. Dia mengekspresikan alienasi dan banyaknya kerugian yang diderita pada skala manusia. Karya subkultur yang krteatif , ekspresif, dan simbolis bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan. • Gaya Punk Menurut Hebdige , gaya adalah praktik signifikasi yang pada kasus subkultur hura – hura menjadi tampilan penuh rekayasa.Melalaui signifikasi perbedaan gaya membentuk identitas kelompok. British punk adalah contoh favorit Hebdige dia menyatakan bahwa punk bukan hanya merupakan respon atas krisis kemunduran Inggris yang termanifestasi dalam pengangguran, kemiskina, dan berubahnya standar moral. Gaya punk adalah ekspresi kemarahan dan frustasi yang melekat pada satu bahasa yang umumnya ada namun sekarang dimaknai sebagai gejala dari sekumpulan masalah kontemporer. Gaya punk pada dasarnya adalah cara pemaknaan terpisah, sadar diri dan ironis. Sebagaimana bricolage yang memaknai kebisingan dan kekacauan pada setiap level gaya punk ditata dengan penuh makna. Punk adalah satu gaya memberontak yang menciptakan perpaduan pembangkangan dengan karakter abnormal seperti piercing, binlainers, rambut yang diwarnai, baju yang di corat – coret , dan iconografifetitisme seksual, stocking yang berlubang lubang dan lain – lain. Melalui tarian yang tak teratur, bunyi yang kacau lirik yang tidak terarah, bahasa yang ofensif dan coret – coretan anarkis. Gerakan punk memandang kemapanan sebagai bahaya sosial karena berpotensi membatasi kebebasan berpikir, mencegah orang-orang untuk melihat sesuatu yang benar di masyarakat, dan sebaliknya memaksa mereka untuk menuruti kehendak kekuasaan. Oleh karena itu lah punk sejatinya merupakan semangat anti-kemapanan. Gerakan punk bukanlah sekadar ihwal musik dan penampilan, melainkan pola pikir (state of mind). Sebagai subkultur, Dick Hebdige (1999:192) memandang punk masa kini tengah menghadapi dua bentuk perubahan yaitu: 1. Bentuk komoditas Dalam segi ini, atribut dan seluruh aksesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah dimanfaatkan oleh industri sebagai barang dagangan yang didistribusikan kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan. Atribut dan aksesoris punk yang dulu hanya dipakai oleh anak punk sebagai simbol identitas, kini dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko jalanan yang menjual aksesoris punk dan dikonsumsi oleh umum. Seperti yang diungkapkan oleh Fox-Genovese dalam Malcolm Barnard (1996:187) “Adopsi gaya punk oleh toko-toko fashion High Street adalah ironi yang menyakitkan”. Barang yang awalnya berfungsi sebagai identitas bagi anak punk, kini telah berubah menjadi barang komoditas yang dimanfaatkan oleh pasar untuk mencari keuntungan. 2. Bentuk ideologis Dari segi ideologis punk merupakan ideologi yang mencakup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dahulu sering dikaitkan dengan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku punk yang dianggap menyimpang, telah didokumentasikan dalam media massa sehingga membuat identitas punk dibalik aksesoris yang melekat di tubuhnya dipandang sebagai seorang yang berbahaya dan berandalan. Punk sebagai subkultur telah membentuk bangunan budaya baru yang berbeda dengan budaya mainstream yang dianut oleh kaum muda sejak awal kemunculan di Inggris hingga perkembangannya sampai sekarang. Nilai-nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap diyakini oleh anggotanya. Walaupun punk telah berganti generasi, tetapi sebagai sebuah subkultur nilai-nilai dan eksistensi punk masih dipertahankan hingga sekarang.


Pengertian Subkultur
Kata ‘kultur’ dalam subkultur menunjuk pada keseluruhan cara hidup yang bisa dimengerti oleh para anggotanya. Kata ‘sub’ mempunyai arti konotasi yang khusus dan perbedaan dari kebudayaan dominan atau mainstream. Menurut Fitrah Hamdani dalam Zaelani Tammaka (2007:164) “Subkultur adalah gejala budaya dalam masyarakat industri maju yang umumnya terbentuk berdasarkan usia dan kelas. Secara simbolis diekspresikan dalam bentuk penciptaan gaya (style) dan bukan hanya merupakan penentangan terhadap hegemoni atau jalan keluar dari suatu ketegangan sosial”. Subkultur lebih jauh menjadi bagian dari ruang bagi penganutnya untuk membentuk identitas yang memberikan otonomi dalam suatu tatanan sosial masyarakat industri yang semakin kaku dan kabur. Secara sosiologis, sebuah subkultur adalah sekelompok orang yang memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka. Subkultur dapat terjadi karena perbedaan usia anggotanya, ras, etnisitas, kelas sosial, dan/atau gender, dan dapat pula terjadi karena perbedaan aesthetik, religi, politik, dan seksual; atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Anggota dari suatu subkultur biasanya menunjukan keanggotaan mereka dengan gaya hidup atau simbol-simbol tertentu. Karenanya, studi subkultur seringkali memasukan studi tentang simbolisme (pakaian, musik dan perilaku anggota sub kebudayaan) dan bagaimana simbol tersebut diinterpretasikan oleh kebudayaan induknya dalam pembelajarannya. Secara harfiah, subkultur terdiri dari dua kata. Sub yang berarti bagian, sebagian dan kultur kebiasaan dan pembiasaan. Tapi secara konseptual, subkultur adalah sebuah gerakan atau kegiatan atau kelakuan (kolektif) atau bagian dari kultur yang besar. Yang biasanya digunakan sebagai bentuk perlawanan akan kultur mainstream tersebut. Bisa berupa perlawanan akan apa saja; agama, negara, institusi, musik, gaya hidup dan segala yang dianggap mainstream.
Konsep Subkultur dalam Masyarakat

Konsep subkultur adalah suatu konsep yang terus bergerak yang bersifat konstitutif bagi objek studinya. Ia adalah suatu terminologi klasifikaoris yang mencoba memetakan dunia sosial dalam suatu tindakan representasi. Subkultur tidak hadir sebagai suatu objek autentik, melainkan dikemukakan oleh para teoritisi subkultur. Kebudayaan adalah subkultur mengacu kepada seluruh cara hidup atau peta makna yang menjadikan dunia ini mudah dipahami oleh anggotanya. Kata “sub” mengandung konotasi suatu kondisi yang khas dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat dominan atau mainstream.
Atribut yang mendefinisikan subkultur, pada gilirannya terletak pada bagaimana akses diletakkan pada perbedaan antara kelompok kultural atau sosial tertentu dengan kebudayaan ataumasyarakat yang lebih luas. Titik berat diletakkan pada variasi dari kolektifitas yang lebih luas yang diposisikan secara sama, namun tidak problematis, sebagai sesuatu yang norma, rata-rata dan dominan. Subkultur dengan kata alain dipandang rendah atau menikmati satu kesadaran tentang perbedaan. Menurut Thornton, opengertian penting dari awalan “sub” adalah lapis bawah atau bawah tanah. Subkultur dipandang sebagai ruang bagi budaya menyimpang untuk menasosiasikan ulang posisi mereka atau untuk meraih tempat bagi dirinya sendiri. Sehingga kebanyakan teori subkultur terkait dengan perlawanan semakin kentara. Kebanyakan kita menganggap dan mengidentikkan subkultur dengan suatu kegiatan yang sifatnya negatif. Padahal, kalau kita tahu dan sadar akan arti dan tujuan kata tersebut, subkultur tidak selalu ditujukan untuk hal yang negatif.
Menurut Mazhab Chicago mengeksplorasi penyimpangan remaja sebagai serangkaian perilaku kolektif yang dikelola di dalam dan melalui nilai kelas subkultur. Perilaku anak muda yang mengganggu kepentingan umum dipahami bukan sebagai patologi individual, atau sebagai akibat dari anak muda yang tak terbedakan, namun sebagai solusi praktis kolektif terhadap masalah kelas yang muncul secara struktural. Para teoretisi kultural studies setuju bahwa anak muda tidak seharusnya dipahami sebagai kelompok homoigen agar perbedaan kelas dan artikulasi mereka denghan nilai – nilai kultural mainstream dan nilai – nila kultural dominan dapat dipahami. Subkultur dilihat sebagai solusi ajaib atau simbolis atas persoalan struktural kelas.  Chicago School mengidentifikasi bahwa reaksi subkultur lahir bukan sebagai fenomena reaksi individual tetapi reaksi kelompok terhadap problem kelas. Penolakan terjadi pada kaum kelas pekerja terhadap kelompok kelas menengah. Dalam model pembagian seperti ini, keadaan kesejahteraan sosial dan ekonomi dinilai sangat tidak adil. Kelompok yang merasa dirugikan, karena kondisi struktur cipataan sangat berperan menyebabkan kondisi ini, berusaha dengan keterbatasan yang ada tetap ingin dapat menikmati hidup dengan cara melakukan redefinisi budaya atau menjadi subkultur agar terasa lebih nyaman.
Subkultur memunculkan suatu upaya untuk mengatasi masalah – masalah yang di alami secara kolektif yang muncul dari kontradiksi berbagai struktur sosial. Seubkultur membentuk suatu bentuk identitas kolektif dimana identitas individu bisa diperoleh diluar identitas yang melekat pada kelas, pendidikan dan pekerjaan. Menurut Brake ada lima fungsi yang bisa di mainkan subkultur bagi para anggotanya diantaranya yaitu :
a. Menyediakan suatu solusi atas berbagai masalah sosio ekonomi dan struktural.
b. Menawarkan suatu bentuk identitas kolektif yang berbeda dari sekolah dan kerja.
c. Memperoleh suatu ruang bagi pengalaman dan gambarab alternatif realitas sosial.
d. Menyediakan berebagai aktifitas hiburan bermakna yang bertentangan dengan    sekolah dan kerja
Contoh – contoh Subkultur
  • Geng Motor
Willis berpendapat bahwa geromolan seperda motor, kebisisngan pengendara yang selalu melaju mengekspresikan kebudayaan nilai dan identitas geng motor. Soliditas , daya tangkap, kekuatan sepeda motor cocok dengan sifat nyata dan penuh percaya diri dari dunia anak – anak muda anggota geng motor. Sepeda motor menegaskan komitmen para anggotanya oleh terhadap hal – hal yang bersifat fisik , ketangguhan dan kekuatan sehingga kejutan dari akselerasi motor agresifitas dari orang – orang yang tak mengenal rasa takut cocok dan menyimbolkan kekuatan maskulin, eratnya persahabatan kekerasan bahasa, dan gaya interaksi sosial mereka.
Menurut Willis subkultur melakukan berbagai kritik penting dan mengemukakan sejumlah pandangan tentang kapitalisme kontemporer dan kebudayaannya. Cara anak – anak pengendara sepeda motor itu dalam menjinakkan brutalnya teknologi demi mencapai tujuan manusia secara simbolis menunjukkan kepada kita teror teknologi raksasa kapitalisme. Dia mengekspresikan alienasi dan banyaknya kerugian yang diderita pada skala manusia. Karya subkultur yang krteatif , ekspresif, dan simbolis bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan.
  • Gaya Punk
Menurut Hebdige , gaya adalah praktik signifikasi yang pada kasus subkultur hura – hura menjadi tampilan penuh rekayasa.Melalaui signifikasi perbedaan gaya membentuk identitas kelompok. British punk adalah contoh favorit Hebdige dia menyatakan bahwa punk bukan hanya merupakan respon atas krisis kemunduran Inggris yang termanifestasi dalam pengangguran, kemiskina, dan berubahnya standar moral. Gaya punk adalah ekspresi kemarahan dan frustasi yang melekat pada satu bahasa yang umumnya ada namun sekarang dimaknai sebagai gejala dari sekumpulan masalah kontemporer.
Gaya punk pada dasarnya adalah cara  pemaknaan terpisah, sadar diri dan ironis. Sebagaimana bricolage yang memaknai kebisingan dan kekacauan pada setiap level gaya punk ditata dengan penuh makna. Punk adalah satu gaya memberontak yang menciptakan perpaduan pembangkangan dengan karakter abnormal seperti piercing, binlainers, rambut yang diwarnai, baju yang di corat – coret , dan iconografifetitisme seksual, stocking yang berlubang  lubang dan lain – lain. Melalui tarian yang tak teratur, bunyi yang kacau lirik yang tidak terarah, bahasa yang ofensif dan coret – coretan anarkis. Gerakan punk memandang kemapanan sebagai bahaya sosial karena berpotensi membatasi kebebasan berpikir, mencegah orang-orang untuk melihat sesuatu yang benar di masyarakat, dan sebaliknya memaksa mereka untuk menuruti kehendak kekuasaan. Oleh karena itu lah punk sejatinya merupakan semangat anti-kemapanan. Gerakan punk bukanlah sekadar ihwal musik dan penampilan, melainkan pola pikir (state of mind).
Sebagai subkultur, Dick Hebdige (1999:192) memandang punk masa kini tengah menghadapi dua bentuk perubahan yaitu:
1. Bentuk komoditas
Dalam segi ini, atribut dan seluruh aksesoris yang dipakai oleh subkultur punk telah dimanfaatkan oleh industri sebagai barang dagangan yang didistribusikan kepada konsumen untuk mendapatkan keuntungan. Atribut dan aksesoris punk yang dulu hanya dipakai oleh anak punk sebagai simbol identitas, kini dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko jalanan yang menjual aksesoris punk dan dikonsumsi oleh umum. Seperti yang diungkapkan oleh Fox-Genovese dalam Malcolm Barnard (1996:187) “Adopsi gaya punk oleh toko-toko fashion High Street adalah ironi yang menyakitkan”. Barang yang awalnya berfungsi sebagai identitas bagi anak punk, kini telah berubah menjadi barang komoditas yang dimanfaatkan oleh pasar untuk mencari keuntungan.
2. Bentuk ideologis
Dari segi ideologis punk merupakan ideologi yang mencakup aspek sosial dan politik. Ideologi mereka dahulu sering dikaitkan dengan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak punk. Berbagai perilaku punk yang dianggap menyimpang, telah didokumentasikan dalam media massa sehingga membuat identitas punk dibalik aksesoris yang melekat di tubuhnya dipandang sebagai seorang yang berbahaya dan berandalan.
Punk sebagai subkultur telah membentuk bangunan budaya baru yang berbeda dengan budaya mainstream yang dianut oleh kaum muda sejak awal kemunculan di Inggris hingga perkembangannya sampai sekarang. Nilai-nilai yang menjadi substansi punk sebagai subkultur tetap diyakini oleh anggotanya. Walaupun punk telah berganti generasi, tetapi sebagai sebuah subkultur nilai-nilai dan eksistensi punk masih dipertahankan hingga sekarang.

0 komentar:

Poskan Komentar